Rabu, 24 Juli 2019

Tanggapan BMKG Terkait Issue Potensi Gempa Bumi dan Tsunami di Cilacap

Pers rilis BMKG (istw)
Jakarta, (Depokini) - Satu minggu belakangan ini, wilayah Indonesia sering diguncang gempa dengan magnitudo di atas 5 SR.
Tentu saja Hal ini menimbulkan banyak kekhawatiran di masyarakat. Selain itu masyarakat juga diresahkan dengan kabar potensi gempa bumi dan Tsunami yang akan terjadi di selatan Jawa.

Kabar tersebut menyebar dengan cepat di media sosial. Melihat kekhawatiran tersebut, BMKG merilis Siaran Pers.

Dikutip Tribunnews.com dari Instagram @infoBMKG berikut penjelasannya.

"Merespon keresahan masyarakat pantai selatan Jawa, akan terjadinya gempabumi dengan kekuatan 8,8 yang diikuti tsunami setinggi 20 meter di pantai Cilacap,"

"hingga Yogyakarta sampai Jawa Timur, berikut info resmi dari BMKG," tulis @infobmkg

a. Indonesia sebagai wilayah yang aktif gempabumi memiliki potensi gempa bumi yang dapat terjadi kapan saja dan dalam berbagai kekuatan.

b. Sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi dengan tepat dan akurat kapan, dimana, dan berapa kekuatannya.

Sehingga BMKG tidak pernah mengeluarkan informasi prediksi gempabumi.

c. Berdasarkan kajian para ahli bahwa zona megathrust Selatan Jawa memiliki potensi gempa dengan Magnitudo maksimum M 8,8.

Tetapi ini adalah potensi bukan prediksi, sehingga kapan terjadinya tidak ada yang tahu.

Untuk itu kita semua harus melakukan upaya mitigasi struktural dan non struktural dengan membangun bangunan aman gempa.

Selain itu, melakukan penataan tata ruang pantai yang aman tsunami, serta membangun kapasitas masyarakat terkait cara selamat saat terjadi gempa bumi dan tsunami.

d. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang beredar.

Apabila ingin mengetahui lebih jelas dapat menghubungi kontak center : 021-6546316 atau www.bmkg.go.id

Melansir postingan BMKG sebelumnya, Daryono selaku Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG akhirnya angkat bicara.

"Selama 3 hari ini saya diminta banyak pihak untuk membuat klarifikasi terkait potensi gempa di Selatan Jawa," ungkap Daryono.

"Jawaban saya adalah bahwa kita harus jujur mengakui dan menerima kenyataan bahwa wilayah kita memang rawan gempa dan tsunami," jelasnya.

"Khususnya wilayah selatan Jawa, keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat."

"Hal ini dianggap wajar jika wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami," imbuhnya. Ia pun menjelaskan bahwa wilayah Samudra Hindia selatan Jawa sudah sering kali terjadi gempa besar dengan kekuatan di atas M=7,0.

Sejarah mencatat daftar gempa besar seperti gempa Samudra Hindia tahun 1863,1867, 1871, 1896, 1903, 1923, 1937, 1945,1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994, dan 2006.

Sementara itu tsunami Selatan Jawa juga pernah terjadi pada tahun 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006.

Kondisi ini merupakan bukti bahwa informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar bukanlah berita bohong. Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan para pakar adalah potensi bukan prediksi, sehingga kapan terjadinya tidak ada satupun orang yang tahu. Untuk itu dalam ketidakpastian kapan terjadinya, kita semua harus melakukan upaya mitigasi struktural dan non struktural yang nyata dengan cara membangun bangunan aman gempa. Selain itu, melakukan penataan tata ruang pantai yang aman dari tsunami, serta membangun kapasitas masyarakat terkait cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami harus menjadi skala prioritas utama

Inilah risiko jika tinggal dan hidup di pertemuan batas lempeng. Mau tidak mau, suka tidak suka inilah risiko yang harus kita hadapi.

Apakah dengan kita mengetahui wilayah kita dekat dengan zona megathrust lantas kita cemas dan takut?

Semua informasi potensi gempa dan tsunami harus direspon dengan langkah nyata dengan cara memperkuat mitigasi.

Dengan mewujudkan semua langkah mitigasi maka kita dapat meminimalkan dampak, sehingga kita tetap dapat hidup dengan selamat, aman, dan nyaman di daerah rawan gempa.

Peristiwa gempa bumi dan tsunami adalah keniscayaan di wilayah Indonesia, yang penting dan harus dibangun adalah mitigasinya.

Selain itu, kesiapsiagaannya, kapasitas stakeholder dan masyarakatnya, maupun infrastruktur untuk menghadapi gempa dan tsunami yang mungkin terjadi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberi jawaban soal kabar adanya potensi gempa 8,8 Skala Richter (SR) dan tsunami dahsyat setinggai 20 meter di Pantai selatan Jawa.

Dikutip dari TribunMedan yang mengutip dari laman Antaranews, Pakar Tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko memprakirakan gempa megathrust berpotensi terjadi di selatan Pulau Jawa. Gempa yang berpotensi terjadi sebesar 8,5 hingga 8,8 SR diprediksi menimbulkan gelombang tsunami dengan ketinggian 20 meter di sepanjang pantai tersebut.

Dampak gelombang gempa tsunami berpotensi mengenai selatan Jawa khususnya selatan DIY cukup panjang yaitu Cilacap hingga Jawa Timur.
Gelombang tsunami tersebut memiliki potensi ketinggian 20 meter dengan jarak rendaman sekitar tiga hingga empat kilometer.

Prediksi gelombang tsunami diakibatkan oleh adanya segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa.

“Ada segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda."

"Akibatnya, ada potensi gempa megathrust dengan magnitudo 8,5 hingga 8,8,” terang Widjo Kongko di Yogyakarta, Rabu (17/7/2019).

Widjo juga mengungkap gelombang tsunami akan tiba dalam waktu 30 menit usai terjadi gempa besar.

“Jika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membutuhkan waktu lima menit sejak gempa untuk menyampaikan peringatan dini, maka masyarakat hanya memiliki waktu sekitar 25 menit untuk melakukan evakuasi atau tindakan antisipasi lain,” pungkasnya.
(MasGatot)