Rabu, 07 November 2018

Bung.., sapaan kebangsaan yang terkikis

Ilustrasi Bung (istw)
Oleh : Bung Gatot DP. Sulistyo

Depok, (Depokini) - Anak Bangsa Indonesia pastilah tak lupa atas semangat perjuangan arek-arek Suroboyo, bersama pemuda Soetomo, yang kemudian lebih akrab di sapa dengan Bung Tomo - berjuang sampai titik darah penghabisan demi negeri tercinta,  peristiwa pertempuran Suroboyo begitu heroiknya, dimana penurunan bendera "merah-putih-biru" belanda, diganti dengan bendera "Merah-Putih", yang di kenal dengan insiden bendera yang terjadi di Hotel Orange. Pekik allahhu akbar kala itu membahana menyemangati arek arek Suroboyo, peristiwa itu kemudian di peringati sebagai Hari Pahlawan, 10 Nopember.

"Bung"..., demikian sapaan akrab kala itu, "Bung"..terdengar lembut ditelinga, panggilan tanpa batas Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan. Bahkan "Bung" mempunyai kekuatan tersendiri di hati rakyat, kala itu - tak banyak yang menempelkan "bung" di depan namanya, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, dan pastinya Bung Tomo.

Kini, 73 tahun sudah peristiwa heroik itu berlalu, kita anak bangsa masih tetap memperingatinya dengan berbagai seremonial belaka, dari mulai tabur bunga di makam Pahlawan, hingga pemberian gelar Pahlawan Nasional bagi yang berhak menerimanya sesuai aturan dan ketentuan perundang undangan tentunya.

"Bung" kini tak terdengar lagi, panggilan itu kini terkikis oleh sebutan Pak, Bos dan Bro...tetapi setidaknya kita patur bersyukur karena masih ada satu ormas yang tetap menggunakannya sebagai panggilan akrab, yakni Pemuda Pancasila - ormas yang dipimpin oleh Bung Yapto ini justru tanpa tedeng aling aling, menggunakan "bung" sebagai sapaan akrab sesama anggotanya. Salut.

Tetaplah menyapa dengan "bung", karena anak bangsa Indonesia rindu dengan, "Bung.." yang begitu menggelora mampu menyatukan sikap segenap anak bangsa dalam satu balutan Merah-Putih, tak ada pertengkaran yang menguras energi hanya karena beda pilihan, "Bung.." mampu menggilas anasir anasir perselisihan, karena "Bung.." adalah sapaan yang tak membedakan antara kaya atau miskin, pintar atau bodoh, pri atau non pri, Islam atau non Islam, semuanya lebur menjadi satu, dalam sapaan "Bung..", dan kita adalah "BUNG"
(Bung Gatot)