Kamis, 15 November 2018

Kapolri : Brimob adalah pasukan terakhir andalan Polri

Kapolri, Jenderal Tito Karnavian
Depok, (Depokini) -  Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa selama ini,  masyarakat telah salah dalam menilai satuan atau unit kepolisian yang melakukan penindakan dalam kasus tindak pidana terorisme. 

Menurutnya, satuan atau unit yang bergerak melakukan penindakan terhadap kasus tindak pidana terorisme adalah Brigade Mobil (Brimob), bukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.

"Kadang-kadang di masyarakat yang dilihat bahwa yang hitam-hitam bergerak adalah Densus 88, bukan.., yang bergerak itu adalah Brimob yang di-bko (diperbantukan) di Densus 88," kata Tito saat memberikan amanat dalam upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Brimob Polri di Hanggar Gegana, Markas Korps Brimob, Depok, Jawa Barat, Rabu (14/11). 

Kapolri, Jenderal Tito Karnavian
saat memberikan amanatnya
 pada HUT Brimob ke 73
Kapolri menerangkan, Densus 88 merupakan satuan atau unit intelijen dalam penanganan kasus terorisme, sementara Brimob adalah jantung dalam melakukan penindakan.

Brimob, lanjut mantan Kepala Densus 88 itu, juga memiliki kemampuan dalam menjinakkan bom.

"Brimob adalah jantung striking force atau kemampuan penindak Densus 88. Densus 88 bukan satuan khusus penindak, Densus 88 adalah satuan intelijen, sementara  penindakannya adalah Brimob," kata Tito. 

Lebih jauh, ia berkata bahwa Brimob sudah menjadi bagian integral dari bagian bangsa Indonesia dalam perjalanan selama 73 tahun.

Dengan segenap kemampuan yang dimiliki seperti reserse mobil, menurutnya, Brimob mampu mendukung penanganan kasus-kasus yang membutuhkan mobilitas tinggi terutama kasus kekerasan atau penanganan huru-hara, 

"Pasukan terakhir andalan Polri ketika terjadi kerusuhan adalah Brimob," ucap Jenderal bintang empat ini.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu pun berterima kasih atas peran Brimob dalam mengamankan peristiwa unjuk rasa yang besar seperti Aksi Bela Islam 411 dan 212 yang berlangsung untuk menuntut penegakan hukum terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 2016 silam.

Tito mengaku sangat beruntung karena para pemimpin Polri pendahulunya telah mempersiapkan Brimob sebagai salah satu kekuatan Polri usai berpisah dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 2000 silam.

"secara pribadi, saya berterima kasih, yang mana, saat  peristiwa demo besar seperti 411, 212 tahun 2016 yang lalu, saya baru menjabat sebagai Kapolri dan harus menghadapi massa yang sedemikian besar, tapi saya merasa beruntung dan berterima kasih kepada para senior karena Brimob sudah dipersiapkan semenjak Polri terpisah dari ABRI," ungkap Tito.
(MasGatot)