Minggu, 28 Oktober 2018

KARANG SAMBUNG, sebuah Laboratorium Alam Geologi yang terlupakan

Kebumen, (Depokini) - Karang Sambung adalah sebuah nama yang asing bagi kebanyakan orang, karna nama tersebut jarang di dengar. Namun dibalik nama tersebut tersimpan sebuah ilmu kebumian, yang kemudian hari banyak terlahir ahli geologi Indonesia.

Karang Sambung terletak di Utara Kota Kebumen, Jawa Tengah,  di Karang Sambung inilah terhimpun beraneka jenis bebatuan, dari berukuran kerikil hingga sebesar bukit, bebatuan itu berasal dari sejarah dan umur bebatuan yang berbeda-beda, batuan yang terhimpun tersebut dan bercampur sedemikian rupa tercipta dari proses Geologi selama kurun waktu jutaan tahun.

Campur aduknya bebatuan sedemikian rupa di sebut dengan " melange" bebatuan tersebut berasal dari kelompok batuan pembentuk lempeng benua dan pembentuk lempeng samudera, yang berasal dari perut Bumi, proses terjadinya batuan lempeng benua dan lempeng samudera bercampur menjadi satu, karena lempeng- lempeng tersebut bersifat mobile, bergerak satu sama lain saling menjauh, berpapasan atau bertabrakan.

Pergerakan kecepatan lempeng-lempeng ini diketahui rata-rata 10cm pertahunnya, apabila dua lempeng bertabrakan pada zona pertemuan dua lempeng, akan terjadi akumulasi batu yang berasal dari kedua lempeng tersebut.

Penemuan pertama Batuan tua di Karang Sambung ini yang disebut batuan Pra-Tersier di pulau Jawa ini, dilaporkan oleh peneliti Geologi Belanda, R.D.M Veerbek dan R. Fennema pada tahun 1881. 

R. Fennema untuk pertama kali menemukan " Tanah Dasar Pulau Jawa" yaitu batuan, diatas dimana terletak batuan sedimen dan batuan gunung api.

Sedangkan Veerbek, dalam penemuan nya yang di tulis pada tahun 1891, menyangkut penemuan Fosil Nummulities dan Orbitulina dari Luk Ulo, Jawa Tengah. Setelah hampir 100 tahun batuan tua itu diukur umurnya dan menunjukkan angka 117 juta tahun( Kerner,dkk 1976).dan kemudian daerah penemuan ini dipetakan oleh Ch.E.A. Harloff (1933), dan setelah perang dunia ke dua daerah ini kembali menjadi objek penelitian ( Tija 1966, Asikin 1974).

Sukendar Asikin adalah orang pertama yang mengulas Geologi daerah Karang Sambung, berdasarkan teori Tektonik Lempeng.

Kampus Geologi Karang Sambung.
Menurut sejarahnya Kampus Geologi tersebut dibangun pada tahun 1964, adalah sebuah kampung lapangan Geologi, dibawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), yang terletak disebuah bukit yang okeh masyarakat sekitar dikenal dengan nama Padang gelagah, bukit ini bersandar dikaki gunung Paras.

Kampus ini sekarang dikenal sebagai Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI. Sukendar Asikin yang merupakan lulusan Geologi ITB tahun 1958, yang kemudian beliau melanjutkan pendidikan " metoda Geologi lapangan" di kampus lapangan Geologi di Rocky mountain, Amerika Serikat. Setelah Kembali dari Amerika Serikat bercita-cita membangun kampus lapangan Geologi, berdasarkan pengalaman nya, dengan dibangunnya kampus lapangan Geologi, pendidikan tentang Geologi lapangan akan lebih intensif dan terarah.

Atas usulannya lah pada tahun 1964, LIPI dan Departemen Urusan Research Nasional ( DURENAS) membangun kampus lapangan Geologi Karangsambung. 

Kampus ini setiap tahun rata-rata 500 mahasiswa yang " nyantri" selama 10 hari sampai 1 bulan untuk mempelajari metoda pekerjaan lapangan Geologi. Dan juga tamu-tamu lain dan pelajar sekolah juga mulai memanfaatkan fasilitas kampus untuk mempelajari tentang Bumi. Di Karang Sambung banyak titik titik singkapan Geologi, bentukan alam seperti:

Batu Basal dan Rijang Batu Gamping, yang berlokasi di kali Muncar, kecamatan Sadang terdapat lava Basal berbentuk seperti sekumpulan bantal yang bertumpuk batuan ini berdampingan dengan batuan berlapis selang-seling antara batuan yang disebut " Rijang". Duet lava Basal dan rijang batu gamping ini adalah ciri batuan berasal dari kepingan lempeng samudera.

Di dalam batu rijang ini ditemukan mahluk renik bernama Radiolaria, yang telah menjadi fosil, pernah hidup antara 80 juta dan 140 juta tahun, berdasarkan fosil Radiolaria itulah umur batu rijang diketahui.

Selain itu ada juga SEKIS MIKA, yaitu batuan yang disebut " tanah dasar pulau Jawa" ini tersingkap di kali Brengkok, batuannya disebut sekis mika (mica Schist), sesuai dengan mineral utamanya yaitu Mika.

Ada juga GUNUNG PARANG, yang lokasinya berjarak 600 meter dari kampus LIPI ini oleh masyarakat sekitar disebut gunung Wurung, menurut peneliti gunung parang adalah sebuah intrusi, yaitu magma ( bahan gunung api) yang menerobos menuju kepermukaan namun keburu membeku sebelum muncul kepermukaan menjadi gunung api.seiring berjalannya waktu tanah diatas intrusi ini tererosi memunculkan gunung Wurung. Gunung Wurung adalah batuan intrusi ( yang Batal  menjadi gunung api).

Selain itu ada juga, BATU GAMPING NUMMULITIES, yang merupakan  kumpulan batuan keping seukuran koin seratus rupiah, fosil Nummulities menunjukkan batugamping ini berasal dari lingkungan laut dangkal pada 50 juta tahun yang lalu. Batuan ini ditafsirkan tercebur ke dalam lumpur pada Palung laut, sebagaimana keberadaan nya dikelilingi oleh batu lempung yang pernah menjadi bagian dari dasar laut dalam.

Sementara di Karang Sambung juga ada  BUKIT WATURANDA, yaitu sebuah bukit yang Batuan nya berwarna abu-abu gelap dan berdinding terjal, yang kemudian disebut Bukit Waturanda ( batu yang menjanda) disebelah baratnya  melintas Lok Ulo ( sungai berkelok mirip dengan ular) yang memisahkan Waturanda dengan bukit bernama Gunung Brujul. Masyarakat setempat mengatakan, Bukit Waturanda dinamakan demikian karena dipisahkan oleh Lok Ulo dengan kekasihnya Gunung Brujul.

Secara geologi Waturanda dan Brujul adalah satu rangkaian perbukitan dengan batuan yang sama, yaitu batu pasir kasar dengan fragmen andesit. Batuan ini berasal dari gunung berapi yang kemudian di endapkan di laut.

Dari bentuk perbukitan yang tersisa dulunya adalah kubah raksasa, kubah tersebut tererosi membentuk lembah dengan susunan amfiteater raksasa, membentuk lembah Karangsambung.

Karang Sambung nyaris terabaikan, tak ubahnya veteran pejuang kemerdekaan, terhimpun nya berbagai macam batuan di Karang Sambung sebagai bukti hasil pertemuan lempeng Indo-australia dengan lempeng benua Asia. Yang merupakan fenomena alam yang langka. Namun sudah terbukti.

Untuk melestarikan Situs batuan Karang Sambung pada tahun 1984 dan 1995 pemerintah daerah setempat mengeluarkan Surat Keputusan tentang larangan penambangan di wilayah karang Sambung.

Pada tahun 2006 situs Karangsambung ditetapkan sebagai Cagar alam Geologi Karangsambung melalui keputusan menteri Energi dan Sumber daya mineral, dan diresmikan oleh Presiden SBY pada tanggal 14 Nopember 2006.

(MasGatot)

Disarikan ulang Oleh Y_L
Sumber dirangkum darigeomagz.geologi.esdm.co.id
Gambar google search.