Home » » Lebaran Kupat Tradisi Kuno Suku Jawa yang hingga kini masih ada

Lebaran Kupat Tradisi Kuno Suku Jawa yang hingga kini masih ada

Ilustrasi Lebaran Kupat (istw)
Jakarta, (Depokini) - Dalam tradisi Suku Jawa, dikenal Lebaran Ketupat, yang dilaksanakan 7 hari setelah hari raya Idul Fitri. Tetapi, darimana asal muasal dan maknanya ?.... Mungkin tulisan ini bisa sedikit menjelaskannya dan memberi gambaran Lebaran Kupat. 

SEJARAH KETUPAT
Konon adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa.  Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Tradisi Lebaran Kupat (istw) 
Arti Kata Ketupat
Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. 
Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari :
Ngaku Lepat dan ~ Laku Papat.
Ngaku lepat artinya MENGAKUI KESALAHAN.
Laku papat artinya EMPAT TINDAKAN.

NGAKU LEPAT
Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat 
(mengakui kesalahan) bagi orang jawa.

Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

LAKU PAPAT
1. LEBARAN.
2. LUBERAN.
3. LEBURAN.
4. LABURAN.

LEBARAN
Sudah usai, 
menandakan berakhirnya waktu puasa. 

LUBERAN
Meluber atau melimpah, 
ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

LEBURAN
Sudah habis dan lebur. 
Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis 
karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

LABURAN
Berasal dari kata labur, 
dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air 
maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

FILOSOFI KUPAT - LEPET

Ilustrasi membuat kulit Ketupat
KUPAT
Kenapa mesti dibungkus JANUR ? 
Janur, diambil dari bahasa Arab " Ja'a nur " (telah datang cahaya ). 
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat HATI manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti 
KUPAT YANG DIBELAH, 
pasti isinya putih bersih, 
hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa? 
Karena hatinya sudah dibungkus CAHAYA (ja'a nur). 

LEPET
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita KUBUR/TUTUP YANG RAPAT.
Jadi setelah ngaku lepet, 
meminta maaf, 
menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, 
jangan diulang lagi, 
agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya KETAN DALAM LEPET.

Semoga bermanfaat.
(MasGatot) 

Thanks for reading & sharing Depok Kini - Depok Terkini

Previous
« Prev Post

Search this website

Populer