Senin, 08 Oktober 2018

Situs Gilanglipuro di yakini bertuah untuk kepemimpinan dan kekuasaan

Situs Gilanglipuro
Yogyakarta, (Depokini) - Jogjakarta terkenal memiliki banyak situs sejarah. Salah satunya adalah situs Gilanglipuro. Situs ini terletak di Dusun Kauman, Gilangharjo, Pandak, Bantul. 

Sejarah situs ini erat kaitannya dengan situs Watu Gilang yang berada di Kota Gede, Yogyakarta. 

Watu atau batu yang ada di situs Gilanglipuro ini adalah bagian dari batu yang dijadikan dhampar atau singgasana Panembahan Senopati atau Danang Sutawijaya yang berada di Situs Watu Gilang Kotagede.

Juru Kunci Situs Gilangharjo, Bayudi atau Mas Jajar Surakso Wiryosenjoyo menyebut situs sering dikunjungi oleh keluarga Keraton. Baik dari Keraton Yogyakarta mau pun Keraton Surakarta. Kerabat Keraton Surakarta bahkan kalau datang membawa rombongan banyak. 

Belum lama ini Sejumlah pejabat dan mantan TNI/Polri juga pernah datang ke situs ini. 

Sekitar dua bulan lalu, purnawirawan jenderal bintang dua datang secara khusus untuk melihat situs ini. Konon mantan Kapolda tersebut memang hobi dengan sejarah.    

Tak hanya keluarga keraton, sejumlah pejabat dan calon pejabat sipil juga datang secara ke situs ini. Menurut Bayudi, Bupati Bantul Suharsono sebelum pemilihan sempat mendatangi situs ini. Kedatangannya untuk melihat-lihat kondisi situs bersejarah ini.

Beliau Sempat berdoa juga, alhamdullillah, doanya terkabul dan jadi bupati," ujar Bayudi.

Bayudi menjelaskan, sejarah situs Gilangpuro bermula saat tahun 1491 ketika Kerajaan Pajang dipimpin Sultan Hadi Wijaya, dan terdapat pemberontakan dari Adipati Harya Penangsang. Pemberontakan tersebut bisa dikalahkan oleh Raden Mas Danang Sutawijaya, kata Bayudi membuka sejarah batu Gilanglipuro.

Lalu dia melanjutkan, Atas jasanya, Danang Sutawijaya dihadiahi tanah dengan area di sebelah selatan Gunung Merapi, sebelah utara Pantai Selatan dan sebelah barat Gunungkidul." Kurang lebih wilayah ini sekarang merupakan wilayah DIY," lanjutnya.

Bayudi menambahkan, Kala itu, Danang Sutawijaya mengembara, sampailah dia di hutan Wanalipura. Di hutan Wanalipura itu terdapat sebuah danau kecil. Di tengah danau itu terdapat sebuah batu 'gilang' berwarna hitam. Di tempat inilah Danang Sutawijaya bermunajat kepada Yang Maha Kuasa.

Setelah bermunajat, Danang Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senopati ini memiliki keinginan untuk membangun istana di Wanalipura. 

Panembahan Senopati bahkan sudah membuka lahan untuk perkampungan dan sudah diberi nama sesuai peruntukan wilayah tersebut di antaranya Kauman, Gandekan, Ketandan, Jetis, dan lain sebagainya, namun rencana ini diurungkan  dan pembangunan istana dipindah ke Kotagede, imbuhnya mepaparkan.
 
Pada 1746, danau tempat Panembahan Senopati berdoa dan bermunajat kepada Yang Maha Kuasa tadi oleh Raja Keraton Surakarta  Pakubuwono II ditimbun menjadi daratan dan didirikanlah bangunan untuk melestarikan Gilanglipuro. 

Dalam sebuah kisah, sebagian batu gilang ini juga dibawa ke Kotagede untuk dijadikan dhampar atau singasana Panembahan Senopati. Dhampar ini saat ini masih ada dan dikenal dengan situs Watu Gilang. 

Lokasinya hanya berjarak sekitar 500 meter arah selatan Pasar Kotagede.  Konon siapa yang akan menjadi raja di Mataram wajib duduk di singasana ini. Maka beberapa waktu lalu, masyarakat Yogya sempat dihebohkan dengan kabar GKR Mangkubumi, putri tertua Raja Yogya telah duduk di dhampar ini. Konon hal ini sebagai pertanda bahwa penerus Raja Yogya adalah GKR Magkubumi.
(MasGatot)

Artikel yang sama sudah dimuat di Sindonews, dengan judul, "Gilanglipuro, Singgasana Danang Sutawijaya yang banyak dikunjungi pejabat"