Jumat, 08 Juni 2018

Tradisi Mudik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit

Ilustrasi mudik (istw) 
Depok, (depoKini) - Idul Fitri atau lebaran, kerap diidentikan dengan tradisi mudik. Yang merupakan tradisi kebanyakan masyarakat perkotaan, termasuk para perantau untuk kembali ke kampung halaman, melepas rindu, dan berkumpul dengan keluarga besar.

Pilihan cara untuk kembali ke kampung halaman juga semakin beragam. Jika kembali ke masa lalu, seperti apa sejarah mudik?

Ternyata, ada cerita menarik di dalamnya.

Suasana saat mudik
dengan KA di era 1990 an
Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengungkapkan, mudik sudah ada sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.

"Awalnya, mudik tidak diketahui kapan. Tetapi ada yang menyebutkan sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam," kata Silverio pada Rabu (6/52018) sebagaiman dilansir dariKompas.com.

Dulu, wilayah kekuasaan Majapahit hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Oleh karena itu, pihak kerajaan Majapahit menempatkan pejabatnya ke berbagai wilayah untuk menjaga daerah kekuasaannya.

Suatu ketika, pejabat itu akan balik ke pusat kerajaan untuk menghadap Raja dan mengunjungi kampung halamannya.
Hal ini kemungkinan,  kemudian dikaitkan dengan fenomena pulang kampung atau mudik.

"Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Terutama mereka balik menghadap Raja pada Idul Fitri," lanjutnya.

Namun menurutnya, Istilah mudik sendiri baru tren pada tahun 1970-an.

Mudik merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan termasuk para perantau di berbagai daerah untuk kembali ke kampung halamannya. Mereka kembali ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama dengan keluarga.

Suasana mudik
 di bandara Soekarno-Hatta
"Mudik, menurut orang Jawa itu akronim dari kata "Mulih Disik" yang bisa diartikan "pulang dulu". Dalam tempo sepekan atau lebih  untuk melihat keadaan keluarga setelah mereka  merantau atau tinggal di kota" ujar Silverio.

Selain itu, masyarakat Betawi mengartikan mudik sebagai "kembali ke udik". Dalam bahasa Betawi, kampung itu berarti udik.

Saat orang Jawa hendak pulang ke kampung halaman, orang Betawi menyebut "mereka akan kembali ke udik".

Akhirnya, secara bahasa mengalami penyederhanaan kata dari "udik" menjadi "mudik".

Selain mengunjungi sanak keluarga di kampung halaman, saat mudik, para perantau juga melakukan ziarah ke kuburan sanak keluarganya.

Hal tersebut dilakukan untuk meminta doa restu agar pekerjaan dan kehidupan di perantauan berlangsung baik.

Dalam perkembangannya, mudik pada zaman dahulu dengan zaman sekarang terdapat perbedaan.

Pada zaman dulu, mudik dilakukan secara natural untuk mengunjungi dan berkumpul dengan keluarga. Lebih karena rasa rindu pada sanak keluarga dan kampung halaman. Sementara di era sekarang, pemudik selain kangen atau rindu juga sekaligus ingin menunjukkan eksistensi dirinya selama di kota / perantauan. Kata Silvero. 

Mereka yang balik ke kampung akan membawa sesuatu yang membanggakan diri dan keluarganya.

"Pada era ini kebanyakan pemudik memaksakan diri untuk tampil sebaik mungkin, cenderung wah," kata Silverio.