Minggu, 17 Juni 2018

Cara Menghitung Baik Atau Buruknya Sebuah Nama Menurut Perhitungan Jawa

Ilustrasi hono Coroko (istimewa) 
Depok, (Depokini) - Mau tahu berat atau tidaknya nama Anda? 
Baik-buruknya nama, menurut perhitungan Jawa {neptu), didasarkan pada susunan aksara Jawa (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga).

Setiap aksara diasumsikan memiliki nilai berbeda.

Ha, da, pa, ma, masing-masing dinilai 1. Na, ta, dha, ga, nilainya 2. Ca, sa, ja, ba = 3. Ra, wa, ya, tha = 4. Ka, la, nya, nga = 5.

Angka-angka itu kemudian dipakai untuk menghitung nilai total dari nama seseorang yang dijumlahkan dari nilai setiap penggalan suku kata.

Contoh, nilai keseluruhan nama Susanto adalah Su (sa=3) + san (sa=3) + to (ta=2) = 8.

Nilai total dari nama itu selanjutnya diproyeksikan pada lima unsur yang menunjukkan "cocok tidaknya nama", yang meliputi lima unsur, "Sri", "Lungguh", "Gedhong", "Loro", "Pati".

Menghitungnya dimulai dari satu (Sri), dua (Lungguh), tiga (Gedhong/Dunyo), empat (Loro), dan lima (Pati).

Setiap habis kelipatan lima, hitungan kembali dimulai dari angka satu (Sri) sampai lima (Pati), begitu seterusnya.

Misal, nilai nama Susanto = 8, dihitung mulai dari satu (Sri), dua (Lungguh), tiga (Gedhong/Dunyo), empat (Loro), lima (Pati), enam (Sri), tujuh (Lungguh), delapan (Gedhong/Dunyo).

Jadi, nama Susanto (dengan angka total 8), jatuh pada unsur "Gedhong/Dunyo".

Artinya, kelak si pemilik nama itu akan bergelimangan harta dalam hidupnya.

Menurut tradisi Jawa, unsur "Sri", "Lungguh", dan "Gedhong/Dunyo" dianggap mewakili unsur kecocokan nama.

Sebaliknya kalau jatuh pada unsur "Loro" dan "Pati", nama itu dianggap tidak cocok bagi yang bersangkutan.

Kelima unsur itu masing-masing memiliki arti konotasi yang berbeda.

"Sri" memiliki arti yang positif (bahagia, kemakmuran, keberuntungan, mulia, dan sukses segalanya).

Juga "Lungguh" dan "Gedhong/Dunyo" mengandung arti yang positif, yakni baik dalam kedudukan (jabatan) dan ekonomi (harta), tapi biasanya masih ada kekurangan di sisi lain, seperti sakit, rumah tangga diselilingi cekcok atau kurang harmonis.

Sebaliknya unsur "Loro" dan "Pati" punya konotasi negatif.

Unsur "Loro" menggambarkan hidup tersendat-sendat, sakit-sakitan, kurang mujur, banyak siai, banyak menderita. Unsur "Pati" menyimpan makna umur yang pendek.

Dalam perhitungan nama ala Jawa, huruf hidup (A, I, U, E, 0) yang berdiri sendiri tidak ikut dihitung atau diabaikan (nilainya = nol).

Misalnya, cara perhitungan nama Hariyanto berbeda dengan Ariyanto.

Kalau Hariyanto = Ha (ha = 1) + ri (ra = 4) + yan (ya = 4) + to (ta = 2} - 11 (unsurnya Sri). Ariyanto = A (diabaikan = 0) + ri (ra = 4) + yan (ya = 4) + to (ta = 2) = 10 (unsumya Pati). 

Artikel ini sudah dimuat di Tribbun-bali.com dengan judul Cara Menghitung Baik Atau Buruknya Sebuah Nama Menurut Perhitungan ala Jawa
(Bambang Kristiono)