Senin, 16 April 2018

Celoteh imajiner pejuang renta

Oleh : KRMH. Gatot DP. Sulistyo

Kubuka jendela...sapa angin pagi, berat kau melangkah lubangi dinding besi..ringan tak pernah kau bawa, manis pun tak pernah kau rasa...tetapi kau tetap melangkah mencoba meraih mimpi..

Ya...mimpi..hanya mimpi..
Jangan membelinya bermimpi pun kau tak berani...
Berat ya memang berat...
Tapi kau tetap melangkah demi sesuap nasi tuk anak, cucu dan istrimu..
Peluh membasahi tubuh yang legam tak berotot, di wajahmu masih tersisa goresan samurai jepang tatkala dulu kau berjuang membela tanah airmu..
Kini pejuang tanah air hanya bisa mengais "sisa sisa" pesta kaum borjuis...,
Pejuang tanah air..
Tanah tak punya,
Air pun beli...

Sambil menatap patung jenderal Soedirman yang berdiri kokoh, dengan posisi memberi hormat, siapa yang kau hormati..jenderal..

Tak terasa berlinang airmatamu.., sambil terus menatap patung Panglima Besar Jenderal Soedirman, dia sang pembela dan pejuang tanah air bergumam lirih...

"tanah airku Indonesia.., negeri elok amat kucinta.., tanah tumpah darahku yang mulya...yang kupuja, spanjang masa...

Tanah airku aman dan makmur, pulau kelapa yang amat subur, pulau mlati pujaan bangsa, sejak dulu kala..."

Tak kuasa ia melanjutkan..lalu ia kembali bergumam lirih...ia bertanya pada nurani mu wahai anak bangsa, "masih Indonesia kah kita.., Indonesia yang dulu di merdekakan oleh para pejuang kemerdekaan atau kini telah menjadi IN DO NE SIA terbaca Indonesia tapi tak merekat.., tolong jaga perekat ke Indonesia an kita demi anak cucu generasi perjalanan bangsa. (GDP)