Minggu, 04 Februari 2018

Letnan Jenderal Andika Perkasa, jebolan SAT-81 Gultor

Andika Perkasa saat masih Mayor Jenderal
Jakarta, (depoKini) - Mendengar nama Satuan 81 Penanggulangan Teror pasti akan tertuju pada Korps Baret Merah, Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat.

Unit super rahasia yang dahulu bernama Detasemen Khusus 81 Penanggulangan Teror ini berdiri pada 30 Juni 1982.

Sat-81 Gultor merupakan pasukan elite di jajaran TNI-AD dan setara dengan Detasemen Jala Mangkara TNI-AL dan Detasemen Bravo 90 Paskhas TNI-AU.

Berdasarkan data, berdirinya Sat-81 Gultor atas prakarsa dari mantan Panglima ABRI periode 1983-1988, Jenderal LB Moerdani.

Konon, satuan yang biasa bekerja dalam unit kecil ini dibentuk dengan latar belakang kasus pembajakan pesawat Garuda Indonesia 206 Woyla di Bandara Don Mueang, Thailand, pada 1981.

Untuk persenjataan, unit ini dilengkapi dengan berbagai macam senjata khusus seperti Minimi 5,56mm, MP5 9mm, Uzi 9mm, Beretta 9mm, Galil, Colt M16A1/A4, SIG-Sauer 9mm, SPR dan beberapa jenis sniper khusus.

Sejak berdiri 36 tahun silam hingga kini, nama unit elite ini kian mendunia. Bahkan, sejajar dengan Delta Forces Angkatan Darat Amerika Serikat dan SAS Inggris.

Komandan dan wakil komandan pertama Sat-81 Gultor adalah duet Luhut Binsar Pandjaitan dan Prabowo Subianto.

Luhut kini menjabat sebagai Menko Kemaritiman dan Sumber Daya dan Prabowo sebagai Ketum Partai Gerindra, sekaligus calon presiden 2019.

Selain Luhut dan Prabowo, muncul nama Lodewijk Freidrich Paulus dan Andika Perkasa.

Lodewijk saat ini menjabat Sekretaris Jenderal Partai Golkar menggantikan Idrus Marham sebagai Menteri Sosial.

Nama terakhir merupakan menantu mantan Kepala Badan Intelijen Negara dan profesor intelijen, Abdullah Mahmud Hendropriyono.

Andika sudah makan asam garam di jajaran korps baret merah selama 12 tahun seperti Grup 2/Para Komando, Batalyon 32/Apta Sandhi Prayuda Utama dan Grup 3/Sandhi Yudha, selain Sat-81/Gultor.

Pria lulusan Akademi Militer 1987 tersebut kini menempati pos baru sebagai Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat, dengan pangkat Letnan Jenderal atau bintang tiga. (GDP) | Foto : Istw