Senin, 12 Februari 2018

*Kirab Grebeg Sudiro, Merajut Kebhinekaan*

Solo, (depoKini) - Kawasan Pasar Gede di Solo, Jawa Tengah berubah menjadi lautan manusia, pada Minggu (11/2/2018) siang. Ribuan pengunjung memadati kawasan Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Jenderal Sudirman tersebut.

Mereka datang dari berbagai penjuru daerah eks Karesidenan Surakarta untuk menyaksikan kirab budaya Grebeg Sudiro. Kirab perpaduan dari masyarakat Tionghoa-Jawa itu dimulai pukul 14.00 WIB.

Kirab mengawali perayaan Tahun Baru Imlek 2018/2569 dengan menampilkan sembilan gunungan berisi hasil bumi dan kue keranjang. Dua gunungan di antaranya berbentuk miniatur Taman Monumen 45 Banjarsari dan rumah dinas wali kota, Loji Gandrung. Ada pula gunungan miniatur Pasar Gede.

Gunungan itu diarak keliling kawasan Kelurahan Sudiroprajan. Kirab dimulai star dari depan Pasar Gede-Jalan Jenderal Sudirman-Jalan Mayor Kusmanto-pertigaan Lojiwetan-Jalan Kapten Mulyadi-perempatan Ketandan-Jalan RE Martadinata-Jalan Cut Nyak Dien-Jalan Juanda-perempatan Warung Pelem-Jalan Urip Sumoharjo-Pasar Gede.

Selesai diarak, warga berebut kue keranjang yang dibagikan panitia kirab budaya Grebeg Sudiro di depan Pasar Gede. Ada 4.000 kue keranjang yang disediakan panitia.
Acara yang bertajuk "Melestarikan Budaya Bangsa, Merajut Kebinekaan" memang menjadi hiburan tersendiri bagi warga masyarakat Solo, termasuk wisatawan dalam dan luar negeri. 

Seorang pengunjung asal Solo, Anina (58), mengaku sering menyaksikan kirab budaya Grebeg Sudiro. Ia bersama dengan keluarga menyaksikan pertunjukan liong dan barongsai.

"Kirab (Grebeg Sudiro) ini kan mengawali tahun baru Imlek. Jadi ke sini ya ingin lihat pertunjukan liong dan barongsai. Juga festival buah-buahan dan kue keranjang," ucap Anina kepada kontributor Depokini, di sela-sela dirinya menyaksikan kirab budaya di kawasan Pasar Gede, Minggu.

Kontributor Depokini juga sempat mewawancarai Lurah Sudiroprajan, Daliman, yang mengatakan, kirab budaya Grebeg Sudiro mengandung makna mempersatukan bangsa dalam kebinekaan. Sebab, kirab budaya ini merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa-Jawa.
"Di Sudiroprajan ada dua etnis Tionghoa dan Jawa. Harapannya bisa hidup bersama dan saling berdampingan. Kita satukan dengan budaya," kata Daliman.

Masyarakat dari dua etnis Tionghoa-Jawa, kata Daliman ikut terlibat dalam peserta kirab budaya Grebeg Sudiro. Hal ini menunjukkan bentuk gotong royong untuk menjaga persatuan dan kesatuan kedua etnis.

Sementara itu, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo pada kesempatan yang sama menambahkan, merajut kebinekaan bukan pekerjaan yang mudah. Namun, dan ini merupakan tanggung jawab yang harus dikerjakan oleh kita secara bersama-sama.

Walikota pengganti Jokowi ini, juga menambahkan bahwa Solo merupakan kota yang nyaman dihuni. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran serta masyarakat dalam menjaga kemajemukan yang ada di Solo dengan baik.

"Sehingganya kemajemukan yang sudah ada dan menjadi warisan ini harus terus bertahan sepanjang masa," imbuh Rudy pada Kontributor Depokini. (Bambang-/GDP)